Hasil survey ke Pulau Tidung di Kepulauan Seribu dari Marina Ancol dan Muara Angke

Dalam rangka mempersiapkan Abacus Treasure Hunt Challenge di Pulau Tidung saya bersama tim acara Pak Benny dan Bayu pada tgl. 24-25 Sep lalu melakukan survey lokasi. Perjalanan dimulai dengan bangun pagi-pagi sekali, demi mengejar kapal krapu yg berdasarkan cerita para bloger hanya ada dipagi hari dan tiketnya pun harus antri karena sangat terbatas. Berangkat dari rumah pukul 03.00 dini hari saya naik motor ke kantor janjian dengan tim trus lanjut ke Marina Ancol menggunakan Taxi. Tiba di Ancol kami harus membayar HTM Rp. 15.000 /orang tapi taxi gratis, lalu kami langsung menuju dermaga ancol. Sampai dilokasi dermaga masih gelap.

Lokasi dermaga Marina Ancol nampak dari atas
marina ancol

Marina Ancol terdiri dari 23 Dermaga, dengan dermaga 23 berada dipaling ujung mengarah ke laut. Disini banyak lokasi untuk parkir mobil dan motor dengan membayar Rp. 15.000 untuk mobil atau Rp. 10.000 untuk motor kita bisa parkir lebih dari 24 jam, parkir di ancol relatif lebih murah dan aman dibanding dengan Muara Angke yg konon kabarnya biaya parkir disana mencapai Rp. 50.000/mobil.

Dermaga 16-17

Lokasi yang menurut saya cocok untuk tempat meeting point rombongan besar adalah di depan dermaga 16 dan 17, disitu ada parkiran motor dan mobil juga ada tempat duduk seperti halte, tempatnya lebih luas dan sepi, dari lokasi tersebut ke tempat parkir/tambat kapal yg kita sewa rombongan memang harus berjalan lagi tetapi tidak terlalu jauh.

Namun demikian, Lokasi yg biasa digunakan untuk berkumpul sepertinya adalah di depan dermaga 22 atau di depan Kafe 22 dimana di depannya terdapat putaran mobil dan taman kecil. Dermaga 22 sendiri adalah tempat kapal sewaan parkir, namun berdasarkan pantauan saya lokasi di depannya cukup sempit ditambah lagi banyak mobil motor parkir tidak teratur, sehingga ketika ada mobil drop penumpang dan berputar disini lokasi tersebut menjadi macet dan ramai.

Gambar diatas merupakan suasana sekitar pukul 06.00 – 07.00 WIB, tidak terlalu panas karena masih pagi dan sinar mataharipun belum terlalu menyengat. Saran saya kapal tidak berangkat lebih dari jam 08.00 WIB karena perjalanan diatas kapal kayu akan terasa cukup panas, perjalanan menggunakan kapal kayu seperti dibawah ini diperkiraan sekitar 3 Jam.

Berbeda dengan kapal di atas, Kapal yang kami gunakan untuk survey ke Pulau Tidung kemarin adalah KM. Krapu, angkutan laut resmi milik pemerintah DKI yang harga tiketnya disubsidi.

dengan kapasitas 28 penumpang kapal ini berangkat dari Marina tepat pukul 07.00 WIB, sekali jalan dari marina kapal ini hanya mengangkut 17 penumpang karena kapal ini akan transit dibeberapa pulau untuk mengangkut penumpang lain; dengan kapasitas kecil dan bermesin besar perjalanan dari marina ke pulau tidung cukup ditempuh dalam waktu 1,5 jam.

Meski jarak nya agak sempit buat orang berkaki panjang bangku kapal ini bermatras dan dibawahnya tersedia life jacket, penumpangpun dapat snack berisi (1 air mineral, 1 waffer dan 1 permen), secara keseluruhan menggunakan KM Krapu dengan harga ticket Rp. 32.000 / orang cukup nyaman. Tetapi karena keterbatasan kapasitas, untuk mendapatkan ticketnya diperlukan perjuangan bangun pagi2 sekali untuk mengantri ticketnya.

Loket KM Krapu ini baru dibuka pukul 06.00 WIB tapi antrian sudah panjang sejak pukul 05.00 WIB, dan pembelian ticketpun tidak bisa diwakilkan, pembelian 1 orang untuk 1 ticket dengan menyebutkan nama dan usia. lokasi loket ini ada di depan dermaga 12 Marina Ancol sedangkan kapalnya parkir di dermaga 21.

Di pintu masuk dermaga 21 ini, petugas akan memanggil satu-persatu nama-nama penumpang yang sudah membeli ticket kapal.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam dari marina kami tiba di dermaga pulau tidung, karena masih pukul 08.30 dermaga ini masih sepi, rombongan-rombongan besar atau pengunjung yg menggunakan kapal ojek dari muara angke pun belum ada yang sampai, biasanya pada pukul 11an dermaga ini ramai dipenuhi pengunjung yang baru tiba.

Di dermaga ini saya melihat satu unit kapal unit gawat darurat yang siap pakai, sepertinya kapal ini memang disediakan untuk warga Pulau Tidung yang juga memiliki Puskesmas 3 lantai.

Pintu gerbang dermaga pulau tidung

Seminggu sebelum kami survey ternyata ada acara Gabung Mulung Tidung 2 digelar, acaranya bersih2 pulau tidung yg disponsori stasiun TV. Kesan pertama masuk ke pulau ini laut di dermaga terlihat bersih tidak seperti yang digambarkan para bloger sebelumnya, mungkin karena baru saja digelar Gabung Mulung Tidung, jadi masih relative bersih.

Disini masih banyak pepohonan yang membuat rindang,  dan di jalanpun yang lewat kebanyakan adalah sepeda dan motor sehingga tidak terlalu berpolusi. Jalan2 disini juga sempit dengan lebar hanya sekitar 1,5-2 meter saja.

Angkutan umum disini adalah Bentor (becak motor) yang menurut informasi harga sekali jalannya cukup mahal bisa mencapai Rp. 15.000, tetapi becak ini bisa mengangkut 3 penumpang sekaligus (2 didepan dan 1 dibelakang).

Dari dermaga Tidung ke lokasi penginapan kita harus berjalan kaki sekitar 10 menit sambil melihat pemukiman penduduk Pulau Tidung, Penginapan dipulau ini semuanya berbentuk homestay dan vila, homestay merupakan rumah penduduk yang disewakan sedangkan vila memang khusus hanya untuk disewakan saja dan biasanya berlokasi di tepi pantai, ada yang ber AC dan ada juga yang hanya kipas angin. Penginapan ber AC pun rata-rata hanya dibagian ruang tamu sedangkan dikamar hanya kipas angin. Satu rumah umumnya terdiri dari ruang tamu tanpa meja kursi dan 2 kamar tidur, satu rumah bisa diisi 9-12 orang dan masing-masing hanya mendapat matras tebal untuk alas tidur, yang menurut saya sudah cukup nyaman untuk kelas backpacker.

Penginapan yang akan kita gunakan adalah  penginapan “enjoy” yang berada di tepi pantai dengan lokasi yang dikelilingi pagar dengan 9 rumah didalamnya, disini sudah disediakan beberapa sepeda yang lengkap dengan keranjang didepannya. Sayangnya memang sepeda disini umumnya tidak terawat banyak yang kondisinya rusak sebagian namun masih bisa dipakai, dan semua sepeda disini seperti itu, sehingga kita tidak punya banyak pilihan.

di penginapan enjoy ini terdapat balai dan alun2 kecil tempat membuat acara, juga tersedia sound system sederhana. Minusnya kalau hujan alun2 atau balai yang ada tidak akan cukup menampung semua peserta sehingga berpotensi terpencar.

Acara malam disini memang hanya cocok jika tidak hujan sehingga peserta tidak perlu tergantung pada alun2 yang ada, karena kapasitas alun2 ini kecil sehingga  lebih cocok untuk dijadikan panggung untuk pengisi acara.

Dari Lokasi penginapan ke lokasi acara yang direkomendasikan vendor tidak lah terlalu jauh menurut saya, dengan menggunakan sepeda hanya sekitar 5-10 menit tergantung pengendara dan kondisi sepeda yang tidak merata.

Berada di sebelah utara lokasi ini mungkin cocok untuk dijadikan pos acara petunjuknya adalah menara BTS, lokasi ini ada di dekat BTS. 

Lokasi-lokasi yang ada di pulau bagian barat tidung ini cukup luas dan relative sepi karena tidak banyak objek yang menarik untuk dikunjungi, sebagian besar adalah lahan kosong berilalang yang sebagian nampak seperti terbakar, karena disiang hari cuaca sangat panas, lingkungannya juga tidak terlalu bersih tetapi termasuk alami karena tidak banyak sampah plastiknya.

Tidak jauh dari lokasi diatas ada lokasi yang cukup menarik dimana terdapat pohon mangrove yang tumbuh didekat palung, ketika kami tiba disana ada beberapa wisatawan yang sedang setengah terendam air berjalan menuju pohon tsb. Palung menurut guide kami adalah bagian terluar pantai yang mengelilingi pulau tidung yang dibuat untuk mencegah abrasi pantai itulah sebabnya disekeliling pulau terdapat pasir putih, antara garis pantai dengan palung air laut hanya setinggi 1/2 meter sehingga kita bisa berjalan menuju palung. Namun kita harus tetap berhati-hati terhadap binatang laut seperti bulu babi dan scorpio yang berbahaya jika terkena kaki.

Selain lokasi-lokasi tersebut ada beberapa lokasi yang bisa kita gunakan namun karena photonya belum ada, nanti saya akan ulas lebih lanjut.

Objek utama dari Pulau Tidung sebenarnya adalah Jembatan Cinta yang menghubungkan Pulau tidung besar dengan pulau tidung kecil. Tidung Kecil sendiri merupakan pulau yang diperuntukan untuk ladang perkebunan sedangkan Tidung besar tempat pemukiman penduduk.

Untuk sampai ke lokasi jembatan cinta dari lokasi games cukup jauh karena dari ujung barat ke ujung timur pulau, melalui homestay tempat menginap dan dermaga pertama kali kita tiba dipulau, dengan sepeda bisa memakan waktu sekitar 20-30 menit tergantung kondisi sepeda dan cara mengendarainya. Sampai dilokasi bila bawa sepeda kita harus parkir dengan biaya Rp. 2.000 / sepeda. Di sekitar lokasi juga terdapat warung-warung yang berjualan aneka makanan dan souvenir. Jembatan dimulai dengan menaiki tangga yang cukup tinggi dan biasa digunakan pengunjung untuk lompat, setelah itu baru jembatan panjang yang terbuat dari kayu, saran kami berhati-hatilah berjalan di jembatan ini karena ada beberapa bagian yang sudah rapuh dan rusak.

Lokasi utama yang dikenal juga sebagai Tanjungan ini cukup ramai dikunjungi karena banyak aktivitas pantai yang bisa dilakukan seperti Flying Fox, Banana Boat, Kanu, Berenang, Snorkeling maupun sekedar berphoto dan melihat keindahan sekitar, seperti teman-teman saya ini.

Bagi para photographer yang paling ditunggu-tunggu dilokasi ini adalah saat tiba sang matari terbenam, keindahanya memang luar biasa apalagi momen ini tidak berlangsung lama sehingga kita harus benar2 siap menangkapnya. coba perhatikan beberapa gambar dibawah ini :

 

Meskipun matahari telah tenggelam pengunjung masih memenuhi lokasi ini, berdasarkan pantauan pengunjung baru mulai kembali kepenginapan setelah suasana mulai gelap, saran saya sebaiknya kita kembali sebelum benar-benar gelap karena jalan disini kecil dan tidak ada penerangan yang cukup, bisa dibayangkan ketika semua orang bersamaan kembali ke penginapan jalan menjadi ramai dan macet, mengendarai sepedapun menjadi agak sulit. penerangan jalan hanya ada dititik-titik tertentu saja baru ketika masuk pemukiman jalan menjadi agak lebih terang.

Esok harinya kami memutuskan untuk pulang lebih cepat, dan kami pun mencoba menggunakan kapal ojek bertingkat dua dengan tujuan Muara Angke. Kami menumpang KM Madina dengan ticket Rp. 33.000 /orang. Dibadan kapal jelas tertulis Kapasitas 48 Penumpang, tetapi kalau saya hitung sekilas penumpang yang diangkut lebih dari kapasitas tsb.

Sebaiknya anda memilih posisi yang paling nyaman dari segala keterbatasan yang ada dikapal ini. karena suasana diatas kapal ini agak berdesakan terlebih lagi jika muatan melebihi kapasitas yang ada.

Kapal sewaan yang akan kita gunakan untuk acara nanti kurang lebih sama seperti kapal yang saya tumpangi ini, atapnya terbuat dari terpal, yang tidak terlalu tinggi, fungsinya untuk melindungi penumpang dari sengatan matahari dan hujan, ketika hari mulai siang dikapal ini lumayan terasa panas tetapi angin laut yang cukup kencang lumayan menjadi AC alam buat saya, meskipun efeknya bikin masuk angin…. :-p hehehe.

Aktivitas yang paling banyak dilakukan selama perjalanan sepertinya adalah tidur, tapi hati-hati karena ketika saya mencoba untuk rebahan dan tidur perut saya langsung mual, mungkin karena goyangan kapal yang perlahan tapi meyakinkan dan posisi saya tidak sepenuhnya rebahan ditambah lagi sudah banyak kemasukan angin laut.

Dikapal tersedia life jaket yang sangat bermanfaat untuk bantal. Di atas kapal berlantai 2 ini, kami memilih duduk di lt. 2 karena di lantai 1. berdekatan dengan mesin, takut terganggu dengan suara diesel yang bising, dikapal ini juga terdapat toilet yang menurut saya ala kadarnya, jadi jangan berharap banyak dari kapal ojek ini.

Perjalanan dari Dermaga Tidung pukul 08.00 WIB tiba di Muara Angke pukul 10.30 WIB (2,5 jam) dengan cuaca yang cerah. Ketika saya membayangkan menggelar acara di atas kapal ini saya menjadi ragu, karena angin laut terasa cukup kencang kalau misalnya kita main kartu khawatir kartu akan terbang tertiup angin, bila menggelar games, dengan ruang yang sempit dan sulit melangkah saya kira games pun menjadi sulit untuk dilakukan. Akhirnya tidur sepertinya menjadi pilihan paling tepat, atau bila ada siapkanlah earphone dan mp3 player dan dengarkan lah musik kesayangan anda selama perjalanan ini.

Tiba di Muara Angke kami disambut bau tak sedap dan suasa kumuh pelabuhan nelayan Muara angke, bersyukur kita akan memulai dan mengakhiri acara di Marina Ancol. Secara keseluruhan perjalanan tim survey terasa sangat berkesan dan yang paling penting acara ini didukung dengan cuaca yang cerah dan bersahabat.

One thought on “Hasil survey ke Pulau Tidung di Kepulauan Seribu dari Marina Ancol dan Muara Angke

  1. mantap gan, tku buat infonya. meskipun sekarang sudah banyak perubahan dalam hal akses ke pulau tidung, tapi informasinya sangat bermanfaat buat yg belum pernah kesana dan gambar-gambarnya juga apik. tku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s